Senin, 07 April 2014

marah...

api menyambar diriku
membakar kepala, dada, tangan dan kakiku
membakar pikiran, hati, dan jiwaku
menguapkan telaga di relung jiwaku

gersang sudah telagaku
kering sudah mata air kejernihanku
tinggal bara kemarahan berkobar di kepala dan dadaku
tinggal jelaga hitam menggisi relungku

lahar panas meloncat-loncat keluar dari mulutku
kobaran dendam memancar dari mataku
memerahkan segala yang ada di hadapku

api menyambar diriku
semoga hujan rahmat segara tercurah di atasku
semoga perkenan mengiringi harapanku

dalam rindu

kembali desir menggelitikku
dari lelap yang belum lama berlalu
hanya sunyi senyap di sekelilingku
berpaling pada sisi di mana biasa engkau menemaniku
melelehlah apa yang mesti mengalir dari mataku
aku merindumu kekasihku
aku menantimu di lelap malamku
kepalaku merindumu
   wajahku merindumu
      mataku merindumu
         hidungku merindumu
           dadaku merindumu
              tanganku merindumu
                 kakiku merindumu
                    hatiku merindumu
               nadiku merindumu
          detakku merindumu
     poriku merindumu
seluruh tubuhku merindumu
raga jiwaku merindumu

berat menindih dadaku
sesak menyempit nafasku
dalam desahku
perlahan ku sebut Asma-Nya dan namamu
bersama nafas keluar dari kerongkongku


Selasa, 28 Januari 2014

...dan bumi pun kembali menggeliat...

entah tlah berapa lama
tak lagi kita perhatikan bumi
entah tlah berapa lama
tak lagi kita pedulikan pertiwi
hingga...
setelah beberapa waktu
setelah menunggu beberapa saat
dalam dingin yang terus menyayat
akhirnya...
bumi pun menggeliat
porak porandakan segala yang berdiri di kulitnya
luluh lantakkan semua yang menancap di kulitnya
telah lama kita lupa
bahwa kita hanyalah manusia
bukan Tuhan semesta
telah lama kita alpa
bahwa kita adalah wakil yang mesti memelihara
bukan tuan yang bisa berlaku sewenangnya
dan alam pun memperingatkan kita
memberitahu betapa pori-porinya tlah kita matikan
hingga tak lagi mampu menyerap segala yang ditumpahkan
hingga dingin menggigilkan tubuh bumi
hingga bumi mesti menggeliat untuk menyadarkan kelalaian manusia
dan...
selaksa ketakutan merasuki jiwa kami
untuk sesaat jiwa kami kembali sadar diri
bahwa alam bukan dalam kendali kami
bahwa kami makhluk tak berdaya yang mesti berpasrah diri
bahwa kami ....
ah, semoga bumi tak bangkit berdiri.