Senin, 20 Juni 2016

Puasakah aku

Puasaku penuh dengan kemarahan
puasaku penuh dengan kebencian
puasaku penuh dengan kedongkolan
puasakah aku?

Puasaku belum mampu menghilangkan dendam
puasaku belum mampu menyingkirkan pamrih akan pujian
puasaku belum mampu meredam hasrat keduniawian
puasakah aku?

Puasaku masih menyisakan iri
puasaku masih menyimpan dengki
puasaku masih sebatas rutinitas lahiri
puasakah aku?

Kala rahmah masih sebatas impian
Saat maaf masih di atas lisan
Ketika hati belum memancar keselamatan
Puasakah aku?

Minggu, 19 Juni 2016

Ramadlan

Engkau istimewa
semua muslim tahu dan mengakuinya
Engkau penuh dengan keutamaan
itupun tidak ada yang mengingkarinya
Engkau menggerakkan jiwa menuju kebaikan
terlihat nyata kala awal hadirmu
bahkan hanya bahagia akan hadirmu
bisa menjadi jalan menuju surga-Nya
namun,
kami bukanlah engkau
kami masihlah pencari keutamaan dengan mengatasnamakanmu
kami masihlah mengunggulkan kepentingan kami dengan memanfaatkanmu
kami giat di bulanmu
karna kami masih silau dengan janji berlipatgandanya pahala
kami hidupkan malam kami di malammu
karna kami masih menginginkan kemuliaan berlimpah dengan amalan tak seberapa
kami tadaruskan ayat-ayat suci di siang malammu
karna kami masih mengharap kemeriahannya
maafkan kami karena kebodohan kami
kami belum benar-benar mampu belajar darimu
belajar untuk benar-benar menghidupkan jiwa kami
bukan sekedar gerak dan tingkat lahiri tanpa ruh batini
belum mampu kami tanam benih-benih rahmah kasih sayang
yang menjadi sifat dasar utamamu
apalagi kelapangan dada untuk meminta dan memberi maaf atas kesalahan-kesalahan
dada kami masih sesak penuh kemarahan dan benci
jiwa kami masih saja belum mampu menerima ketika tersakiti
lalu,
bagaimana keselamatan dari api mampu kami raih dan jalani
jika kasih sayang masih ternodai oleh kebencian
jika hasrat memaafkan  masih dikalahkan oleh kemarahan

Semoga perkenan turun kepada kami
agar kami mampu melangkah menuju diri sejati
Semoga engkau bukan sekedar menjadi bulan suci bagi kami
namun merasuk dalam jiwa kami sebagai benih-benih menuju kesejatian abadi

Rabu, 03 Februari 2016

pada-Mu, mestinya

pada-Mu
mestinya semua dikembalikan
pada-Mu
mestinya semua disandarkan
pada-Mu
mestinya semua diserahkan
pada-Mu
mestinya semua ditundukkan
pada-Mu
mestinya semua berasal dan menuju

namun,
seringkali kami lupa diri
seringkali kami merasa mumpuni
seringkali kami merasa menguasai
seringkali kami mengingkari

nikmat kami salah gunakan
anugerah kami salah manfaatkan
cobaan salah kami artikan
amanat salah kami jalankan

hanya perkenan dari-Mu
untuk memperbaiki segala
cuma perkenan-Mu
yang memungkinkan perubahan segala
dan
amin
untuk setiap doa