Minggu, 14 Agustus 2011

Harapan di tengah Perjalanan


Sudah sepertiga ramadlan berjalan
Namun belum juga ku rasakan
    segala nikmat yang dijanjikan

Rahmah barakah pada malam-malam awal
Berlalu tanpa torehkan kesejukan
Terlalu banyak bara yang masih berkobar
     menyala, membakar seluruh kesadaran

Tebaran rahmah yang harusnya
  telah menebar
      memancar dari dalam diri tiap orang beriman
Hingga kini belum dapat terwujudkan

Tiap kata masih keluar dengan penuh
Tekanan
  meluncur deras dalam kemarahan
Tiap tindakan yang mestinya penuh kedamaian
  malah hanya menawarkan
      pertengkaran dan kesombongan

Beragam bara tak sisakan ruang
Bagi sejuk
          nyaman
              dan kedamaian

Benar-benar segala haus dan lapar
Masih menjadi perilaku badan
Menahan diri dari minum dan makan
Masih sebatas pekerjaan penghilang kewajiban

Nilai keagungan yang mestinya
Meresap,
      menebar,
           menggerakkan
Yang ada di belakang badan
Masih terhalang oleh jelaga hitam
     noda dan kesalahan

Apa yang ku kira sebagai air suci keikhlasan
Ternyata tak lebih dari comberan kesombongan
Apa yang ku anggap sebagai siraman sejuk ketundukan
Ternyata tak lebih dari guyuran panas keangkuhan

Oh.......
   tak mudah dan tak akan pernah menjadi mudah


Oh.....
   dalam tangis yang kadang sesenggukan
Masih tersimpan rapat satu harapan
Semoga aku masih diberi kesempatan
Menikmati segala kenikmatan dan limpahan
   kesejukan
           meski di akhir perjalanan.
Amin.

Sabtu, 13 Agustus 2011

DO'A

ya Allah...
       mohon perkenan-Mu
             untuk senantiasa
                 menundukkan wajah
            di atas sajadah....

ya Allah....
       mohon perkenan
            untuk selalu
                menempatkan hati
          lebih tinggi dari dahi

ya Allah...
       semoga hati
             menjadi cermin
                  yang memantulkan
           segala agung-Mu

Untukmu Indonesiaku


Belum lagi seratus tahun usiamu
telah jauh menyimpang arah langkahmu
     kesejahteraan yang dulu digagas para pendirimu
     keadilan yang dulu diangankan para pembelamu
     kemandirian yang dulu diimpikan para pahlawanmu
semua belum menemukan titik temu
dulu...
para moyang rela menanggalkan segala kenikmatan
      mengabaikan segala kenyamanan
           menanggalkan segala jabatan
demi keyakinan dan perjuangan
kini....
keyakinan mudah dijual
    kebebasan gampang digadaikan
         perjuangan boleh dibelokkan
asal kenikmatan tak meninggalkan badan
     kenyamanan masih dapat dirasakan
        jabatan dan kekuasaan tetap bisa dipertahankan
kini......
terlalu sering kekuasaan dianggap
      bukan sebagai amanat yang mesti dijawab
            dengan mensejahterakan rakyat
kekuasaan tak lagi dianggap sebagai kepercayaan
       yang harus diemban dengan sepenuh keikhlasan
kekuasaan tak lagi diyakini sebagai perjuangan
      demi menebar sebanyak mungkin kemanfaatan
kini...
kekuasaan sering dipandang sebagai jalan
      demi meraih kesejahteraan individual
kekuasaan sering dianggap sebagai anugerah
      untuk berbagi kenikmatan di antara keluarga dan teman

usiamu belum lagi seratus
namun garis juangmu seakan hampir putus
cinta rakyatmu pun mulai terberangus
mereka yang mencoba mempertahankan segala
            nilaimu agar tak pupus
terlalu sering menangis tertahan terputus-putus

mereka yang kami percayai
     terlalu banyak yang khianati
segala janji
         tak pernah dipenuhi
lalu bagaimana wahai Ibu Pertiwi
agar cinta untuk negeri
       tetap bertahan di dalam hati?

Belum genap seratus tahun usiamu
mengapa seperti sudah mau habis waktumu?