bukan hanya tak ada keberhasilan
bahkan mungkin kerugian yang
tak terkatakan
akhir perjalanan sudah ada di hadapan
tanpa sesuatu yang didapatkan
hati masih saja sekeras batu
rasa tetap membeku melebihi salju
tubuh malah makin berlumur debu
kemarahan belum dapat dibelenggu
iri dengki masih saja menggebu
dendam tak jua tertunduk lesu
masih saja belum kuperoleh hadiah
bagi jiwa
agar kerontang berganti kesejukan
biar kering menjadi kesuburan
kasihan engkau jiwa
tak jua kau temui kenyamanan dan kedamaian
tak jua kau mampu lepas dari belenggu kesumat nafsu
bisakah engkau berkata pada dirimu sendiri
bahwa kau telah berjuang dengan segala mampu
dapatkan engkau memandang lekat mata sukmamu
yang merintih pilu menahan kesewenangan egomu
lalu bagaimana pertanggung jawabanmu
pada wajah yang tetap kau angkat dalam angkuhmu
pada tangan yang kau gunakan untuk menggerakkan sombongmu
pada dada yang kau busungkan untuk menunjukkan banggamu
pada kaki yang kau langkahkan menuju pemuasan kesumatmu
pada mata yang kau paksa melihat segala kesewenanganmu
pada telinga yang kau tulikan dari suara tindasanmu
pada mulut yang kau tarik dalam senyum saat menyaksikan
derita saudaramu
pada hati yang kau hilangkan segala lembutnya
pada rasa yang kau bekukan seluruh sejuknya
pada iman yang kau keringkan seluruh dahan rantingnya
wajah ingin menunduk
kau paksa untuk mendongak
tubuh ingin membungkuk
kau paksa untuk tegak
lutut ingin menekuk
kau paksa untuk tak bergerak
ah...entahlah...
semoga masih ada waktu
untuk sekedar membasuh wajahku
Minggu, 21 Agustus 2011
Senin, 15 Agustus 2011
tentang perut, dada, dan kepala
betapa keangkuhan mampu menghitamkan segala putih
sungguh nafsu akan kemuliaan mampu menghalalkan segala haram
betapa kemunafikan tak pernah ragu berganti wajah dan topeng
sungguh keinginan perut semakin meliar dan tak peduli aturan
kebanggaan diri
kemuliaan diri
keangkuhan dan kesombongan diri
merasa terbaik di antara semua
merasa paling benar di antara semua
merasa paling berarti di antara semua
sungguh keinginan perut harus dikendalikan
tak boleh liar seperti anak menginginkan jajan
bukahkah perut di bawah jantung?
lalu kenapa ketika 'nglunjak' tak kau 'pentung'?
sungguh kesombongan telah membutakan mata
akan keagungan makna setiap yang tercipta
pemujaan nalar tanpa meminta pertimbangan rasa
kecerdasan pikir bergerak menjadi berhala
pemutus paling hebat untuk setiap peristiwa
meski benar kepala berada di atas dada
namun kepala harus ditundukkan senantiasa
agar mencapai nilai yang jauh lebih berharga
sungguh nafsu akan kemuliaan mampu menghalalkan segala haram
betapa kemunafikan tak pernah ragu berganti wajah dan topeng
sungguh keinginan perut semakin meliar dan tak peduli aturan
kebanggaan diri
kemuliaan diri
keangkuhan dan kesombongan diri
merasa terbaik di antara semua
merasa paling benar di antara semua
merasa paling berarti di antara semua
sungguh keinginan perut harus dikendalikan
tak boleh liar seperti anak menginginkan jajan
bukahkah perut di bawah jantung?
lalu kenapa ketika 'nglunjak' tak kau 'pentung'?
sungguh kesombongan telah membutakan mata
akan keagungan makna setiap yang tercipta
pemujaan nalar tanpa meminta pertimbangan rasa
kecerdasan pikir bergerak menjadi berhala
pemutus paling hebat untuk setiap peristiwa
meski benar kepala berada di atas dada
namun kepala harus ditundukkan senantiasa
agar mencapai nilai yang jauh lebih berharga
Minggu, 14 Agustus 2011
Harapan di tengah Perjalanan
Sudah sepertiga ramadlan berjalan
Namun belum juga ku rasakan
segala nikmat yang dijanjikan
Rahmah barakah pada malam-malam awal
Berlalu tanpa torehkan kesejukan
Terlalu banyak bara yang masih berkobar
menyala, membakar seluruh kesadaran
Tebaran rahmah yang harusnya
telah menebar
memancar dari dalam diri tiap orang beriman
Hingga kini belum dapat terwujudkan
Tiap kata masih keluar dengan penuh
Tekanan
meluncur deras dalam kemarahan
Tiap tindakan yang mestinya penuh kedamaian
malah hanya menawarkan
pertengkaran dan kesombongan
Beragam bara tak sisakan ruang
Bagi sejuk
nyaman
dan kedamaian
Benar-benar segala haus dan lapar
Masih menjadi perilaku badan
Menahan diri dari minum dan makan
Masih sebatas pekerjaan penghilang kewajiban
Nilai keagungan yang mestinya
Meresap,
menebar,
menggerakkan
Yang ada di belakang badan
Masih terhalang oleh jelaga hitam
noda dan kesalahan
Apa yang ku kira sebagai air suci keikhlasan
Ternyata tak lebih dari comberan kesombongan
Apa yang ku anggap sebagai siraman sejuk ketundukan
Ternyata tak lebih dari guyuran panas keangkuhan
Oh.......
tak mudah dan tak akan pernah menjadi mudah
Oh.....
dalam tangis yang kadang sesenggukan
Masih tersimpan rapat satu harapan
Semoga aku masih diberi kesempatan
Menikmati segala kenikmatan dan limpahan
kesejukan
meski di akhir perjalanan.
Amin.
Langganan:
Postingan (Atom)