Selasa, 14 Juni 2011

kembali tentang rindu

dari degub ringan di dalam diri
   hingga menjadi dentuman hebat yang
       menghantam dinding hati
dari riak perlahan di ujung jiwa
   hingga menjadi gelombang pasang yang
     menghantam sukma
dari desir sejuk di pucuk daun cinta
    hingga menjadi topan besar yang
      mengombang-ambing jiwa

rindu mengalir dari mengasyikkan
    menjadi tak tertahankan
        dari semilir sejuk
    menjadi badai dingin membekukan
        dari hangat jiwa
    menjadi kobaran nyala

rindu berubah dari puisi-puisi jiwa
    yang tersimpan rapat dalam relung hati
 menjadi aliran panas kata yang mesti dikeluarkan
      menjadi baris-baris kata dalam nyata

dan pada akhirnya...
mesti kembali tak mampu diungkap dalam kata
mesti tersimpan lagi dalam sunyi jiwa

Minggu, 12 Juni 2011

untuk rindu yang lebih berarti

lapisi rindu dengan penyebutan asma-Mu
aliri degub dengan aliran tasbih-Mu
isi gelombang dengan dahsyat tahmid-Mu

biar padu hati dan jiwaku
biar makna merasuk dalam tiap
    tarik nafasku
biar sia sirna dari tiap
     pengharapanku

karna....
segalanya dari-Mu
    bersama-Mu
 dan berakhir pada-Mu

Cinta dan Rindu (sebagai nikmat Tuhan)

inilah nikmat selaksa nikmat
tumbuhan subur tak pernah layu
rindang memayung dalam sejuk
abadi bersemi di taman hati

    tiap gugur daun
      menebar wangi beragam kesturi
    tiap mekar bunga
      menghias megah relung sukma
    tiap kuncup tunas
      tumbuhkan sejuk semakin indah

itulah cinta di hati tiap bernyawa
abadi hidup sepanjang hayatnya

    mendegub jantung
        menggetar nadi
    alirkan gelora dalam jiwa
      merambat, menyebar seluruh badan
    dalam panas menggigil kedinginan

itulah rindu dalam gelombang
saat menggulung di jiwa-jiwa insan