Tampilkan postingan dengan label abadi di jiwa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label abadi di jiwa. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 Juli 2013

kenangan itu

di sini aku menantimu
di ujung jalan perempatan
berpaling ku ke kanan
muasal engkau melangkah
tak ada lambai
tak ada sapa
hanya berjalan
melintas begitu saja
hanya mata yang bicara
sungging malu sambil berpaling muka
dan...
beribu bunga tiba-tiba tertata di jiwa
menebar wangi ke seluruh raga
aku berjalan ikuti langkahmu
menuju masjid di senja penutup waktu
demi menghadap Pemilik Semesta
pelankan langkah sebelum tangga
tak ada paling tak ada kata
ku naiki tangga menuju ruang utama
melirik sebentar wajahmu yang menghadap utara
hanya sekilas namun penuhi hati dengan ratna
harum mewangi sebelum menghadap-Nya

Kamis, 22 November 2012

untukmu delapan hurufku

aku mengenalmu bahkan sebelum aku kenal diriku
getar halus bergandengan sejak masa belum ku kenal rindu
bertautan rasa tak pernah terasa
hingga masa kita beranjak remaja
ketika pandangan mulai memercik cahaya
ketika kerlingan mulai mencari arahnya
ketika rindu mulai menuntut ketemu

tanpa mesti saling berkata cinta
kita tahu apa yang sedang melanda
hingga tiba saat kita menunda sua
mencari makna di tempat berbeda

mulai aku merindumu di malam-malamku
akan senyum yang tak pernah layu
akan tatap yang tak pernah ragu
akan wajah yang tak pernah sayu
akan tegur yang selalu ku tunggu

dan cinta pun mulai menghendaki kebersatuan
utara dan selatan menagih penggabungan
agar utuh sebuah lingkaran
lingkaran jiwa dari dua jiwa yang disatukan
kesempurnaan sebuah pasangan

cinta kita mulai menerabas batas masa
rindu kita mulai melintas dunia
mengangkasa seberkas cahaya
menuju singgasana paripurna cinta

hilang sudah aku di hadapmu
larut sudah engkau bersamaku
tinggal kita tersisa menyatu
tak lagi ada aku atau pun kamu

garis takdir tak terelakkan
raga kita mesti terpisahkan
demi penuhi garis ketetapan
namun cinta bukanlah badan yang terkungkung
    dalam batas zaman

cinta adalah aliran jiwa
sempurna dalam keutuhannya
tak ada tata nalar bekerja di dalamnya

boleh saja dimensi dunia kita berbeda
boleh saja zaman dan masa pisahkan raga
namun, jiwa kita tetap sama
bersatu berpadu dalam cinta

rinduku menggebu sepanjang waktu
menggulung megah tanpa kenal waktu
tak ada malam
tak ada siang
rindu membawaku melintas batas waktu

aku merindumu
dalam lelap dan sadarku
dalam raga dan jiwaku
dalam nalar dan hatiku

aku mencintamu
memadu sukma menjadi satu

Rabu, 15 Juni 2011

mensyukuri cinta

menikmati detak yang tetap berdegub
   mendegub nama pada dinding hati
   memahat sejuta indah
   tampilkan selaksa megah

menikmati getar yang masih menjalar
   alirkan segenap rasa ke sekujur badan
   isi tiap jaringan dengan lukisan makna
     dari sebaris nama delapan aksara

menikmati berkas cahaya di ujung relung jiwa
  terangi lekuk-lekuk istimewa
    memantul cahaya gemerlap sukma
    mempesona tiap hati yang mampu melihatnya

menikmati apa yang tlah menyatu di jiwa
   berdiam abadi dalam istana hati
 seberkas cahaya cinta pasangan jiwa
    anugerah terindah yang pernah ada

menikmati kebersatuan tak kenal masa
   setelah raga tak lagi bersua
    tak ada lagi aku dan dia
     jiwa kami lebur dalam satu raga