inikah awal dari takut
mula dari khawatir
sepi makin menjadi
hampa makin menganga
gundah kian membuncah
aku ada dalam ketiadaan
hadir dalam kegaiban
abadi dalam kefanaan
engkau adalah jiwaku
itu takdirmu
anugerah bagiku
kembalimu pada-Nya
juga takdirmu
kehilangan bagiku
ikhlasku atas kepergianmu
seikhlas ikhlasku pada hadiranmu
sepiku karna ketiadaanmu
tak sisakan ruang detak dan suara di jiwaku
senyap
hening
hampa
Kamis, 21 Januari 2010
Selasa, 19 Januari 2010
Adanya aku....
kembali sepi menggelora
dalam dada
gundah membuncah
dalam jiwa
hampa menganga
di dinding sukma
sepiku tanpamu
gundahku dalam tiadamu
hampaku dalam sendiriku
menyatu memadu dalam diriku
semua jauh berada di luar
mampuku
biarlah tangis temani
sepiku
biarlah isak sandingi
gundahku
biarlah sembab sertai
hampaku
kepergianmu
tiadamu
kembalimu
ku rasa jauh berada di luar
jangkauku
tiada daya aku
meski harus ku jalani
ada Ia yang t'lah gariskan segala
biar aku luluh lantak di kaki-Nya
biar aku bersimpuh di duli-Nya
biar aku tak berdaya di hadap-Nya
dalam dada
gundah membuncah
dalam jiwa
hampa menganga
di dinding sukma
sepiku tanpamu
gundahku dalam tiadamu
hampaku dalam sendiriku
menyatu memadu dalam diriku
semua jauh berada di luar
mampuku
biarlah tangis temani
sepiku
biarlah isak sandingi
gundahku
biarlah sembab sertai
hampaku
kepergianmu
tiadamu
kembalimu
ku rasa jauh berada di luar
jangkauku
tiada daya aku
meski harus ku jalani
ada Ia yang t'lah gariskan segala
biar aku luluh lantak di kaki-Nya
biar aku bersimpuh di duli-Nya
biar aku tak berdaya di hadap-Nya
Senin, 18 Januari 2010
Tak Urung Ku Menangis
biar meleleh sungai mata
tak perlu ku tahan-tahan
tak perlu ku pendam-pendam
biar mengalir luka jiwa
tak perlu ku tutup-tutup
tak perlu ku bendung-bendung
biar lega semua sesak
biar longgar seluruh ikat
biar damai dalam diri
engkau tidak biasa bagiku
engkau anugerah terindah untukku
engkau tetesan surga jiwaku
jadi biarlah isak menemaniku
biarlah tangis mendampingiku
biarlah 'sembab' menyertaiku
Tak urung aku menangis
sebagai jawab nilai dirimu bagiku
tak perlu ku tahan-tahan
tak perlu ku pendam-pendam
biar mengalir luka jiwa
tak perlu ku tutup-tutup
tak perlu ku bendung-bendung
biar lega semua sesak
biar longgar seluruh ikat
biar damai dalam diri
engkau tidak biasa bagiku
engkau anugerah terindah untukku
engkau tetesan surga jiwaku
jadi biarlah isak menemaniku
biarlah tangis mendampingiku
biarlah 'sembab' menyertaiku
Tak urung aku menangis
sebagai jawab nilai dirimu bagiku
Langganan:
Postingan (Atom)