Minggu, 09 Mei 2010

Tiba-tiba aku merindumu

deras hujan mengalir turun
susuri genteng rumah kita
gemeresak suara air
rambati tiap sudut miring atap rumah kita
menetas pada batu-batu kecil di sekitar rumah kita
mengalir pasti menuju selokan dengan muara
sungai di dekat rumah kita

semua mengalirkan rindu
tiap tetes yang menjadi deras
     membawa detak rindu yang tiba-tiba
tiap suara titik air di batuan
     melantunkan sahyu lagu rindu yang menggelora

deras hujan menambatkan rindu
    di pantai hati
gemericik air mendendangkan rindu
   di relung jiwa

semua begitu tiba-tiba
  rinduku menggebu
  rinduku menggelora
  rinduku menggelegak
  rinduku padamu
     menghantam dinding-dinding hatiku

tiba-tiba aku rindu padamu
    sangat rindu padamu

tentang hadirmu

senyum kembali merekah di bibir
bunga kembali mekar di taman hati
mentari kembali semangatkan jiwa
ceria kembali menghias muka
          hadirmu adalah sebuah cerita
             keindahan yang hapus segala nestapa
             kesejukan yang segarkan segala cuaca
             keagungan yang dicurahkan Sang Maha Segala
tak perlu lama
cukup beberapa detik saja
tak perlu nyata
cukup di alam sana
      cukuplah itu sebagai penawar
                pembangkit cita
                    penyemangat jiwa
      cukuplah itu sebagai telaga
            penghilang dahaga jiwa
                penyejuk gersang sukma
      cukuplah itu sebagai karunia
            bagi hati yang sendiri
                 bagi diri yang tercerai
      cukuplah itu sebagai tanda
            akan kebersamaan yang tetap ada
            akan keabadian berpadunya jiwa
masih tertanam kuat di hatiku
engkaulah anugerah terbesarku
semoga selalu dan tetap begitu
   aku mohon padamu
   wahai Pemilik jiwa ragaku

Jumat, 07 Mei 2010

Keluhku

menata hati tak semudah menata peti
menata jiwa tak segampang menata raga
   
      ada getar yang tak mampu ditipu nalar
      ada kebenaran yang tak pernah tertutup kebohongan
      ada kepastian yang tak pernah bisa dilindas keraguan

rasa hati tak pernah bisa dikalahkan oleh dusta
getar jiwa tak pernah bisa dinistakan oleh daya nalar

karena hati merupakan inti diri
    penggerak dan pengarah langkah tingkah
    penentu dan penetap arah jalan tempuh
    pemberi nilai untuk tiap usaha dan laku

karena jiwa fondasi manusia
    dasar keberadaan manusia
    titik pijak penciptaan manusia
    pokok keunggulan manusia

tundukkan hati di bawah duli Sang Sejati
agar kesombongan tidak merusaknya
simpuhkan jiwa di bawa Sang Segala Maha
agar keangkuhan tiada menguasainya

      letakkan ego diri di bawah kaki
      tengadahkan tangan hinakan keakuan
      sujud tunduk akui kehambaan

agar sejati memasuki diri
agar utama berada di jiwa
agar pasrah dibimbing hidayah