Kamis, 29 Maret 2012

getar dan hampa

mendengar lantun ayat-ayat disuarakan
dari bibir-bibir mungil di surau pinggiran
indah tak terperikan
   bersama bening suara penuh keikhlasan

mendengar lantun ayat-ayat keagungan
dari bibir-bibir mungil di pergantian jaman
menetes sejuk embun kehambaan
menembus relung hasrat pengabdian
menunduk angkuh nafsu kesombongan

ku coba kembali mengulang lantunan
ku ambil kitab ku buka dan ku baca
ternyata suaraku tak semerdu bibir-bibir mungil itu
ternyata getarku tak mampu menembus dinding kalbu
entahlah...
   meski senyum menyelimuti malamku
     getar lantunanku tak mampu menggetar sukma
entahlah....
   ataukah mungkin ikhlas tak ku punya?
   apakah karena ku tak mampu tunduk dengan sempurna?

Sabtu, 24 Maret 2012

sebuah do'a

mohon perkenan
agar ikhlas mengalir dalam garis takdir-Mu
        rela jalani setiap langkah dalam tetap-Mu
tak lagi bertanya
  akan arti dan makna
tak lagi berkesah
  akan gundah gelisah
tak lagi menuntut
  pengkabulan yang tak patut

mohon perkenan
agar ikhlas mengalir di sungai takdir
dalam jernih
    dalam sejuk
       dalam gemericik menyejukkan
 tak lagi marah
    ketika jalan tak searah
tak lagi amuk
    saat angan tak jadi bentuk
tak lagi kecewa
    jika ingin belum menjelma

mohon perkenan
meliuk bersama alir sungai takdir-Mu
menari dalam desir angin kuasa-Mu

Jumat, 23 Maret 2012

jelang subuh

terpekur di atas hamparan
merenung apa yang berjalan
akan makna sebuah perjalanan
   akan arti sebuah tujuan

terduduk di atas tanah
   mencoba untuk berserah
     di atas lembaran sajadah
membaca ayat-ayat tentang amanah

tertunduk menekuk tengkuk
mengingat amal segala bentuk
hati dan dan jiwa yang masih membusuk
dalam jerat perangai buruk

mencari makna dari desah hampa
mencari arti dari tiap gerak diri
mencari kalbu pada tiap tarikan rindu