berjajar pulau bagai mutu manikam
tersekat laut dan selat sebagai penambah keindahan
bersatu dalam segala keragaman
Sriwijaya telah menunjukkan
bahwa laut adalah nadi nusantara
Majapahit juga telah membuktikan
bahwa laut tidak pernah memisahkan
malah justru menghubungkan
agung masa lalu di mata dunia
kekuatan besar bernama Nusantara
terkagum seluas mata memandang
keindahan surga bernama Nusantara
lalu ketakutan dan kekerdilan mulai merusak dan menghancurkan
laut tak lagi dianggap sebagai penghubung
setelah Paregreg menenggelamkan seluruh jembatan laut Nusantara
kapal-kapal besar warisan Sang Laksamana Nala
para pemimpin tak lagi terpikir untuk saling terhubungkan
malah lebih senang sembunyi di pojok-pojok kekerdilan
Demak mencoba membangkitkan
kandas di Malaka kemudian sirna setelah Unus meregang nyawa
dan...
pudar serta padamlah kebesaran Nusantara
negeri dongeng bagai surga
Tiga ratus tahun kemudian, bangkitlah kesadaran para pemuda
menyebut negeri ini tak lagi Nusantara
berganti nama menjadi Indonesia
mengikrarkan mereka sumpah untuk kembali membangun kebesaran Nusantara
sebuah sumpah sebagaimana sumpah Sang Gajah Mada
meski dengan nada yang sedikit berbeda
Berbangsa satu Bangsa Indonesia
Berbahasa satu Bahasa Indonesia
Bertanah air satu tanah air Indonesia
Dua windu kemudian Soekarno bersama Hatta memproklamirkan
lahirnya sebuah bangsa bernama Indonesia
di bawah todongan senapan Jepang yang sedang kalah perang
bersusah payah untuk kembali saling mengikatkan
beberapa teman perjuangan mulai kehilangan pegangan
mencoba menggunting dalam lipatan
hayalan kebangkitan Nusantara jaya berada dalam ancaman
meski akhirnya dapat terselesaikan
Kini, setelah 69 tahun sejak kelahiran
masih saja layak untuk mempertanyakan:
Sudahkah Indonesia berjalan menuju Nusantara Jaya?
Sudahkah Indonesia mampu menjadikan laut kembali sebagai jembatan penghubung, bukan pemisah antar nusa?
Sudahkah
kita saling membahu untuk saling melengkapi sehingga perbedaan dan
keragaman bukan penghalang untuk saling menghormati dan menghargai?
Sudahkah tata tentrem kerta raharja dan loh jinawi mulai melingkupi?
ataukah..
masihkah kita menjadi Trenggono-Trenggono yang menganggap kematian saudaranya sebagai berkah bagi kehidupan dan kejayaannya?
masihkah kita hanya memiliki keinginan untuk mengagungkan diri sendiri meski dengan mencaci saudara bahkan orang tua sendiri?
masihkah kita hanya memikirkan kesejahteraan sendiri dan tidak peduli dengan apa yang terjadi di sekeliling diri?
Selamat Ulang Tahun Negeriku...
Dirgahayu Bangsaku...
Selasa, 19 Agustus 2014
Minggu, 03 Agustus 2014
rindu....
kembali merindumu
di malam-malam sunyiku
kadang serasa hampa
kadang serasa sirna
menggigil seluruh tubuh dan jiwa
dingin dalam rindu tanpa masa
belai yang menyeruak dalam hayal raga
kembali membadai bekukan sukma
hangat sentuh pada pori-pori muka
alirkan dahsyat gelombang cinta
padamu aku merindu
padamu aku mencinta
padamu aku mengharap
hadir dalam wujud beda
menyatu dalam raga beda
entah raga siapa
entah lagi dimana
entah kapan waktunya
aku hanya berharap
semoga segera
pada raga yang denyutku pun berdetak serupa
yang kadang hampir tak lagi 'srenta'
untuk memeluk dan menciuminya
di malam-malam sunyiku
kadang serasa hampa
kadang serasa sirna
menggigil seluruh tubuh dan jiwa
dingin dalam rindu tanpa masa
belai yang menyeruak dalam hayal raga
kembali membadai bekukan sukma
hangat sentuh pada pori-pori muka
alirkan dahsyat gelombang cinta
padamu aku merindu
padamu aku mencinta
padamu aku mengharap
hadir dalam wujud beda
menyatu dalam raga beda
entah raga siapa
entah lagi dimana
entah kapan waktunya
aku hanya berharap
semoga segera
pada raga yang denyutku pun berdetak serupa
yang kadang hampir tak lagi 'srenta'
untuk memeluk dan menciuminya
Selasa, 27 Mei 2014
Isra' Mi'raj (masihkah kami mampu merenungi?)
entahlah...
masihkah kami mengerti dan memahami
makna dan esensi peringatan tawajuhanmu dengan Tuhanmu?
masihkah kami merenungi esensi dari penghadapanmu di sidratil muntaha?
masihkah kami mensyukuri kegigihanmu untuk meringankan peribadahan kami?
mungkin...
kini kami mulai lupa akan makna dan esensi
kini kami mulai merayakannya sebagai sebuah pesta
kini kami mulai tidak lagi mampu merenungi nilai-nilai agung peristiwa yang kami peringati
Isra Mi'raj...
kisah perjalanan jiwamu melintas bumi
mengunjungi tempat-tempat suci
kisah penghadapanmu kepada Sang Maha Suci di tempat paling suci
untuk menerima perintah paling esensi
wahai Nabi kami...
maafkan kami karna kami tak lagi berani menyebutmu sang kekasih hati
maafkan kami karna kami tak lagi berani memanggilmu dengan sepenuh hati
kami mulai lalai...
lalai akan makna dan esensi
lalai akan ajaran-ajaran luhur yang mestinya kami pegangi
sikap dan tingkah kami terlalu sering menyelisihi segala tauladan dan suri
ibadah-ibadah kami mungkin tinggal tersisa dalam gerakan-gerakan kami
tak lagi makna melingkupi
tak lagi denyut mengaliri
tak lagi suci melandasi
maafkan kami wahai sang Rasul
semoga engkau tak masygul
semoga engkau memohonkan petunjuk kepada Sang Maha Unggul
agar kami kembali pada sejati ajaranmu Rasul
amin
masihkah kami mengerti dan memahami
makna dan esensi peringatan tawajuhanmu dengan Tuhanmu?
masihkah kami merenungi esensi dari penghadapanmu di sidratil muntaha?
masihkah kami mensyukuri kegigihanmu untuk meringankan peribadahan kami?
mungkin...
kini kami mulai lupa akan makna dan esensi
kini kami mulai merayakannya sebagai sebuah pesta
kini kami mulai tidak lagi mampu merenungi nilai-nilai agung peristiwa yang kami peringati
Isra Mi'raj...
kisah perjalanan jiwamu melintas bumi
mengunjungi tempat-tempat suci
kisah penghadapanmu kepada Sang Maha Suci di tempat paling suci
untuk menerima perintah paling esensi
wahai Nabi kami...
maafkan kami karna kami tak lagi berani menyebutmu sang kekasih hati
maafkan kami karna kami tak lagi berani memanggilmu dengan sepenuh hati
kami mulai lalai...
lalai akan makna dan esensi
lalai akan ajaran-ajaran luhur yang mestinya kami pegangi
sikap dan tingkah kami terlalu sering menyelisihi segala tauladan dan suri
ibadah-ibadah kami mungkin tinggal tersisa dalam gerakan-gerakan kami
tak lagi makna melingkupi
tak lagi denyut mengaliri
tak lagi suci melandasi
maafkan kami wahai sang Rasul
semoga engkau tak masygul
semoga engkau memohonkan petunjuk kepada Sang Maha Unggul
agar kami kembali pada sejati ajaranmu Rasul
amin
Langganan:
Postingan (Atom)