rinduku ah...
membara bara
berkobar api
membadai topan
menggelombang ombak
rinduku padamu
ku harap menjadi
rinduku padaMu
Kamis, 22 September 2016
Rabu, 17 Agustus 2016
71 tahun negeri kami
Semoga kami mewarisi semangat juang para pendahulu kami
Semoga mengalir dalam darah kami darah para pendahulu kami
Semoga kami memiliki jiwa dan spirit luhur para pendahulu
kami
Semangat untuk menyatukan bukan memisahkan
Darah satria perwira bukan darah pengecut pembelot
Jiwa untuk menghilangkan penindasan bukan melestarikan
kesewenangan
Spirit untuk memperjuangkan kemerdekaan bukan melanggengkan
penjajahan
Tujuh puluh satu tahun negeri kami
Perlahan pudar budaya kami
Lambat laun menguap tradisi kami
Terkikis hingga hampir habis semangat juang kami untuk
membangun negeri
Keramahan bergerak pelan berganti kegarangan
Anugerah keragaman mulai dianggap sebagai alasan untuk
saling tikam
Saling mencaci seakan menjadi tradisi
Hukum digunakan sekedar alat untuk mengusung kepentingan
kelompok dan pribadi
Tujuh puluh satu tahun negeri kami
Semoga menetes jiwa satria perwira pada kami dan merembes
dalam sanubari anak cucu kami
Semoga mengalir semangat juang membangun negeri hingga dalam
aliran darah generasi penerus kami
Semoga budaya dan tradisi kami tidak benar-benar habis
terkikis gempuran budaya dan tradisi yang tak pernah berakar di negeri kami
Semoga para pemimpin negeri senantiasa menjadi wali nagari
Semoga para agamawan selalu menebar kedamaian dalam
keragaman pendapat dan aliran
Semoga para cendikiawan tetap berjiwa merah putih meski
berada di negeri matahari terbit ataupun di ujung barat peradaban
Semoga yang tua senantiasa membimbing dan menghargai yang
muda
Semoga yang muda selalu mendengar nasehat dan menghormati
yang tua
Semoga …
Semoga …
Semoga …
Senin, 25 Juli 2016
masih saja belum mampu aku melepaskan
menjadi kelu
lidahku
menjadi bisu
lisanku
menjadi lumpuh
kakiku
menjadi lemas
lenganku
masih saja ku genggam
apa yang meski dilepaskan
masih saja ku kejar
apa yang mesti ditinggalkan
masih saja ku harap
apa yang mesti dihindar
bukan untuk melupakan
namun untuk membebaskan
bukan untuk mengabaikan
namun untuk melapangkan
bukan untuk mematikan
namun untuk menghidupkan
lidahku
menjadi bisu
lisanku
menjadi lumpuh
kakiku
menjadi lemas
lenganku
masih saja ku genggam
apa yang meski dilepaskan
masih saja ku kejar
apa yang mesti ditinggalkan
masih saja ku harap
apa yang mesti dihindar
bukan untuk melupakan
namun untuk membebaskan
bukan untuk mengabaikan
namun untuk melapangkan
bukan untuk mematikan
namun untuk menghidupkan
Langganan:
Postingan (Atom)