menikmati detak yang tetap berdegub
mendegub nama pada dinding hati
memahat sejuta indah
tampilkan selaksa megah
menikmati getar yang masih menjalar
alirkan segenap rasa ke sekujur badan
isi tiap jaringan dengan lukisan makna
dari sebaris nama delapan aksara
menikmati berkas cahaya di ujung relung jiwa
terangi lekuk-lekuk istimewa
memantul cahaya gemerlap sukma
mempesona tiap hati yang mampu melihatnya
menikmati apa yang tlah menyatu di jiwa
berdiam abadi dalam istana hati
seberkas cahaya cinta pasangan jiwa
anugerah terindah yang pernah ada
menikmati kebersatuan tak kenal masa
setelah raga tak lagi bersua
tak ada lagi aku dan dia
jiwa kami lebur dalam satu raga
Rabu, 15 Juni 2011
rumah cintaku
terajut indah dalam dada
sulaman emas di ruang jiwa
dihampar megah di tengah cahaya
biar hangat engkau di sana
biar nyaman engkau di dalamnya
berdinding kasih
berhias sayang
berpintu kagum
berjendela puja
biar betah engkau di sana
biar tetap engkau di dalamnya
itulah pondok kecil dalam jiwa
ku persembahkan dengan sepenuh jiwa
ku bangun dengan segenap cinta
khusus untukmu...
adinda
sulaman emas di ruang jiwa
dihampar megah di tengah cahaya
biar hangat engkau di sana
biar nyaman engkau di dalamnya
berdinding kasih
berhias sayang
berpintu kagum
berjendela puja
biar betah engkau di sana
biar tetap engkau di dalamnya
itulah pondok kecil dalam jiwa
ku persembahkan dengan sepenuh jiwa
ku bangun dengan segenap cinta
khusus untukmu...
adinda
Selasa, 14 Juni 2011
kembali tentang rindu
dari degub ringan di dalam diri
hingga menjadi dentuman hebat yang
menghantam dinding hati
dari riak perlahan di ujung jiwa
hingga menjadi gelombang pasang yang
menghantam sukma
dari desir sejuk di pucuk daun cinta
hingga menjadi topan besar yang
mengombang-ambing jiwa
rindu mengalir dari mengasyikkan
menjadi tak tertahankan
dari semilir sejuk
menjadi badai dingin membekukan
dari hangat jiwa
menjadi kobaran nyala
rindu berubah dari puisi-puisi jiwa
yang tersimpan rapat dalam relung hati
menjadi aliran panas kata yang mesti dikeluarkan
menjadi baris-baris kata dalam nyata
dan pada akhirnya...
mesti kembali tak mampu diungkap dalam kata
mesti tersimpan lagi dalam sunyi jiwa
hingga menjadi dentuman hebat yang
menghantam dinding hati
dari riak perlahan di ujung jiwa
hingga menjadi gelombang pasang yang
menghantam sukma
dari desir sejuk di pucuk daun cinta
hingga menjadi topan besar yang
mengombang-ambing jiwa
rindu mengalir dari mengasyikkan
menjadi tak tertahankan
dari semilir sejuk
menjadi badai dingin membekukan
dari hangat jiwa
menjadi kobaran nyala
rindu berubah dari puisi-puisi jiwa
yang tersimpan rapat dalam relung hati
menjadi aliran panas kata yang mesti dikeluarkan
menjadi baris-baris kata dalam nyata
dan pada akhirnya...
mesti kembali tak mampu diungkap dalam kata
mesti tersimpan lagi dalam sunyi jiwa
Langganan:
Postingan (Atom)