Selasa, 04 Oktober 2011

membaca hati

mengeja hati tak seperti mengeja puisi
dalam puisi deret huruf berbirama rapi
    alur suara berirama bunyi
     ubah huruf menjadi mutiara
      ubah bunyi menjadi penuh makna
suara hati tak selalu punya bunyi
   dalam sepi menyimpan banyak misteri
     tanpa suara menyampaikan segala arti
      dibariskan tanpa eja
         dibentangkan tanpa rupa
            dihamparkan dalam keheningan makna

membaca jiwa tak seperti membaca sastra
tak ada kata dari jejeran aksara
   tak ada tinta untuk menuliskannya
      tak ada lembaran untuk menuangkannya
tindak laku mengganti aksara
  gerak langkah mengganti pena
     penerimaan jiwa menjadi lembarannya
tak terbaca dengan mengerjap mata
   tak bermakna jika tanpa mata jiwa
 pada lembaran di alam nyata

Senin, 03 Oktober 2011

kala rindu ingin mengadu

akulah rindu
menderu-deru
   menggebu-gedu
      bergulung-gulung
tak akan reda badaiku
 hingga diurai tonggak pertemuan
tak mungkin mengecil hasratku
 sampai bertemu relung perjumpaan
tak akan pudar gelombangku
 kecuali melandai di pantai sua

akulah rindu
semakin menggila sepanjang waktu
   semakin meronta di belantara jiwa
      semakin dahsyat hantamannya

akulah rindu
  sepanjang waktu

Minggu, 02 Oktober 2011

untuk sebuah nama (lagi)

Sepi menjebak diri
yakin seakan sirna pergi
aku termangu sendiri
resapi segala resah yang me nghampiri
inilah garis yang mesti ku jalani
fikir jangan sampai terbebani
akhiri semua dengan penyerahan sejati

        Untuk titah
        letakkan kepala di atas sajadah
        yang lainnya biar sajalah
        asal akhirnya tunduk berserah