Minggu, 06 Januari 2013

tentang sakit dan luka


bagaimanapun juga sakit adalah sakit
tak bisa dihilangkan dengan senyuman
mungkin saja tawa keras membahana
mungkin saja senyum ditebar ke mana-mana
mungkin saja wajah bersinar ceria
namun sakit tetaplah sakit
nyeri yang tak hilang meski dihijab segala bahagia

bagaimanapun juga luka adalah luka
tak akan sembuh hanya dengan ditutup tawa
tak akan hilang jika hanya dilapis wajah ceria
tak akan sirna nyeri dengan berpura tak rasakannya

bagaimanapun juga sakit adalah sakit
rasakan saja nyerinya
bagaimanapun juga luka adalah luka
nikmati saja nyerinya

kesembuhan dan pengobatan bukanlah seketika
namun jalan panjang sehingga kita bersahabat dengan sakit dan luka
kesembuhan dan pengobatan adalah niscaya
ketika kita telah mampu bercengkrama dengan sakit dan luka

jangan pernah sandarkan kesembuhanmu pada masa
karna kadang masa malah semakin memerihkan luka

Jumat, 04 Januari 2013

pada-Mu


Mengeluhku pada-Mu
hanya pada-Mu
tak lagi ingin ku keluhkan hidupku
selain pada-Mu
tak lagi ingin ku ceritakan bebanku
kecuali pada-Mu

mengeluhku pada-Mu
hanya pada-Mu
Engkaulah segala
Engkaulah semua
Engkaulah seluruh
Engkaulah sepenuh

mengeluhku pada-Mu
hanya pada-Mu
tak ingin lagi ku berbagi
hanya pada-Mu
Pemilik hati dan jiwaku
Penggenggam ruh dan sukmaku

mengeluhku pada-Mu
hanya pada-Mu

Senin, 24 Desember 2012

tadi malam


Merindumu di hari-hari sepiku
bersama bintang yang tak lagi menghias langitku
guntur gelegar menambah kelam jelaga malam
kilat menyambar kaburkan mata yang memandang

di sudut kamar tempat kita selalu memadu
aku kembali duduk termangu
jelajahi malam melintasi ruang waktu
kembara ke negeri tempat kita bertemu

dalam pejam semua tampak bersinar
seluruh jalan yang pernah kita lalui melambai memberi tawar
di ujung sana sosokmu muncul penuh kilau pendar
terselubung putih indah tak ternalar

melangkahku terseret mendekatimu
berat nian melepas raga yang masih menjeratku
membawanya serta malah melumpuhkanku
inilah dunia jiwa berbendar yang raga tak akan mampu

tak terkira beban kaki hendak melangkah
kembali pula ke raga rumah
jika saja kumandang subuh belum menggugah
jika saja dua bening mata kecil tiba-tiba memanggil ayah
tak ingin aku kembali berbenah
menembus alam melintas dunia menuju tanah

kokok ayam tak juga mampu bangkitkan hasrat
kumandang adzan hanya kembalikan sadar sesaat
dua rakaat belum juga mampu ku rasa nikmat
dalam rindu yang semakin menjerat