entahlah...
masihkah kami mengerti dan memahami
makna dan esensi peringatan tawajuhanmu dengan Tuhanmu?
masihkah kami merenungi esensi dari penghadapanmu di sidratil muntaha?
masihkah kami mensyukuri kegigihanmu untuk meringankan peribadahan kami?
mungkin...
kini kami mulai lupa akan makna dan esensi
kini kami mulai merayakannya sebagai sebuah pesta
kini kami mulai tidak lagi mampu merenungi nilai-nilai agung peristiwa yang kami peringati
Isra Mi'raj...
kisah perjalanan jiwamu melintas bumi
mengunjungi tempat-tempat suci
kisah penghadapanmu kepada Sang Maha Suci di tempat paling suci
untuk menerima perintah paling esensi
wahai Nabi kami...
maafkan kami karna kami tak lagi berani menyebutmu sang kekasih hati
maafkan kami karna kami tak lagi berani memanggilmu dengan sepenuh hati
kami mulai lalai...
lalai akan makna dan esensi
lalai akan ajaran-ajaran luhur yang mestinya kami pegangi
sikap dan tingkah kami terlalu sering menyelisihi segala tauladan dan suri
ibadah-ibadah kami mungkin tinggal tersisa dalam gerakan-gerakan kami
tak lagi makna melingkupi
tak lagi denyut mengaliri
tak lagi suci melandasi
maafkan kami wahai sang Rasul
semoga engkau tak masygul
semoga engkau memohonkan petunjuk kepada Sang Maha Unggul
agar kami kembali pada sejati ajaranmu Rasul
amin
Selasa, 27 Mei 2014
Senin, 07 April 2014
marah...
api menyambar diriku
membakar kepala, dada, tangan dan kakiku
membakar pikiran, hati, dan jiwaku
menguapkan telaga di relung jiwaku
gersang sudah telagaku
kering sudah mata air kejernihanku
tinggal bara kemarahan berkobar di kepala dan dadaku
tinggal jelaga hitam menggisi relungku
lahar panas meloncat-loncat keluar dari mulutku
kobaran dendam memancar dari mataku
memerahkan segala yang ada di hadapku
api menyambar diriku
semoga hujan rahmat segara tercurah di atasku
semoga perkenan mengiringi harapanku
membakar kepala, dada, tangan dan kakiku
membakar pikiran, hati, dan jiwaku
menguapkan telaga di relung jiwaku
gersang sudah telagaku
kering sudah mata air kejernihanku
tinggal bara kemarahan berkobar di kepala dan dadaku
tinggal jelaga hitam menggisi relungku
lahar panas meloncat-loncat keluar dari mulutku
kobaran dendam memancar dari mataku
memerahkan segala yang ada di hadapku
api menyambar diriku
semoga hujan rahmat segara tercurah di atasku
semoga perkenan mengiringi harapanku
dalam rindu
kembali desir menggelitikku
dari lelap yang belum lama berlalu
hanya sunyi senyap di sekelilingku
berpaling pada sisi di mana biasa engkau menemaniku
melelehlah apa yang mesti mengalir dari mataku
aku merindumu kekasihku
aku menantimu di lelap malamku
kepalaku merindumu
wajahku merindumu
mataku merindumu
hidungku merindumu
dadaku merindumu
tanganku merindumu
kakiku merindumu
hatiku merindumu
nadiku merindumu
detakku merindumu
poriku merindumu
seluruh tubuhku merindumu
raga jiwaku merindumu
berat menindih dadaku
sesak menyempit nafasku
dalam desahku
perlahan ku sebut Asma-Nya dan namamu
bersama nafas keluar dari kerongkongku
dari lelap yang belum lama berlalu
hanya sunyi senyap di sekelilingku
berpaling pada sisi di mana biasa engkau menemaniku
melelehlah apa yang mesti mengalir dari mataku
aku merindumu kekasihku
aku menantimu di lelap malamku
kepalaku merindumu
wajahku merindumu
mataku merindumu
hidungku merindumu
dadaku merindumu
tanganku merindumu
kakiku merindumu
hatiku merindumu
nadiku merindumu
detakku merindumu
poriku merindumu
seluruh tubuhku merindumu
raga jiwaku merindumu
berat menindih dadaku
sesak menyempit nafasku
dalam desahku
perlahan ku sebut Asma-Nya dan namamu
bersama nafas keluar dari kerongkongku
Langganan:
Postingan (Atom)