Jumat, 02 November 2018

Saat Kata Tak Lagi Memangku Maknanya

huruf tak lagi mampu ditata
kata tercecer dalam keteraturan maknanya
kalimat masih saja tak mampu hadirkan makna
hurufnya masih sama
kata juga masih yang lama
kalimat masih itu-itu juga
namun mengapa beda rasa
dulu menggetar jiwa
mengapa sekarang seakan hampa
entah kemana hilangnya makna

goresan tegas huruf-huruf yang menyusun kata
kehilangan ruh yang semestinya
entah karena kata tak lagi membutuhkan makna
entah karena pena tak lagi mampu membubuhkan rasa
entah karena si penulisnya tak lagi punya jiwa

pada akhirnya, huruf dan kata adalah sebagaimana pedang ataupun pena
tergeletak tanpa guna saat tak ada yang memegangnya
huruf dan kata sebagaimana pedang dan pena
mampu menjadi alat untuk apa saja
di tangan pembunuh pedang digunakan untuk membunuh
di tangan pencaci pena hanya menghasilkan maki
di tangan satria pedang menjadi penjaga dan pemelihara nyawa
di tangan pujangga pena menghasilkan keindahan yang menyentuh jiwa

pada akhirnya, makna huruf dan kata hanyalah kepanjangan dari si empunya
kata yang sama keluar dari mulut berbeda
tetap tidak pernah pernah menghasilkan imbas makna yang sama
apa yang keluar dari hati pasti sampai ke hati
apa yang keluar dari nalar hanya mampu mencapai nalar
apa yang keluar dari syahwat dan ambisi juga berujung pada pengejaran syahwat dan ambisi

maka jangan mudah percaya pada kata
rasakan dengan jiwa getaran makna dari kata
gunakan nurai untuk selami tujuan sebenar dari penyampai kata
percayalah pada hati agar tak tertipu dengan indah kata pembungkus segala cela

karena kini muncul banyak manusia
sengaja menggunakan kata sebagai senjata
untuk menutupi maksud syahwat sebenarnya
sengaja menggunakan kata sebagai sarana
membakar emosi massa untuk capai tujuannya

Selasa, 23 Oktober 2018

lalu bagaimana mesti

lalu bagaimana mesti
saat pandangan tertutup benci
tentu yang ada hanya caci
tentu yang muncul hanya maki
tentu tak tersisa sanjung puji
tentu tak mungkin hadir sejati

lalu bagaimana mesti
saat hati diliput benci
cinta tak bertahta lagi
kasih kehilangan nyali
hanya aib yang dicari
sedang baik tak ditimbang lagi

lalu bagaimana mesti
ketika jiwa kehilangan hati
tak peduli saudara sendiri
selalu ada alasan untuk mencaci
bahkan atas nama Sejati

lalu bagaimana mesti
kembalikan cinta dalam hati
ketika diri dalam kuasa iri
saat jiwa berada dalam pelukan dengki

lalu bagaimana mesti
menjaga hati bersama nurani
saat ambisi dipandang jalan ilahi
ketika nafsu dianggap sejati
kala kuasa menjadi titik cari

lalu bagaimana mesti
oh....padaMu aku kembali
semoga perkenan senantiasa sertai
langkah dan hasrat diri

lalu bagaimana mesti
......

Senin, 17 September 2018

Jika....maka....

Jika belum bisa menghormat 
        berusahalah untuk tidak menghujat 
Saat belum mampu untuk menghargai 
        usahakan tidak ikut-ikutan mencaci 
Ketika belum sanggup untuk merangkul 
        tak usahlah gerakan tangan untuk memukul 
Bila belum memiliki kesanggupan untuk menyatukan 
        janganlah menjadi sebab keterceraian
 
Saat melihat ada yang salah ingatkan tanpa menghinakan 
Kala menyaksikan penyimpangan, luruskan tanpa mematahkan 
Ketika terjadi kebatilan, tegakkan kebenaran tanpa menciderai kemanusiaan
 
Tidak mungkin bagi kita menjadi tinggi dengan cara merendahkan 
Tidak bisa kita meraih kehormatan dengan cara menghinakan 
Tidak akan ada bagi kita keagungan dan kebesaran dalam kesewenangan dan penindasan