lalu bagaimana mesti
saat pandangan tertutup benci
tentu yang ada hanya caci
tentu yang muncul hanya maki
tentu tak tersisa sanjung puji
tentu tak mungkin hadir sejati
lalu bagaimana mesti
saat hati diliput benci
cinta tak bertahta lagi
kasih kehilangan nyali
hanya aib yang dicari
sedang baik tak ditimbang lagi
lalu bagaimana mesti
ketika jiwa kehilangan hati
tak peduli saudara sendiri
selalu ada alasan untuk mencaci
bahkan atas nama Sejati
lalu bagaimana mesti
kembalikan cinta dalam hati
ketika diri dalam kuasa iri
saat jiwa berada dalam pelukan dengki
lalu bagaimana mesti
menjaga hati bersama nurani
saat ambisi dipandang jalan ilahi
ketika nafsu dianggap sejati
kala kuasa menjadi titik cari
lalu bagaimana mesti
oh....padaMu aku kembali
semoga perkenan senantiasa sertai
langkah dan hasrat diri
lalu bagaimana mesti
......
Tampilkan postingan dengan label negeriku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label negeriku. Tampilkan semua postingan
Selasa, 23 Oktober 2018
Minggu, 25 Desember 2016
adakah yang bermain api?
Adakah yang sengaja mengumpulkan ranting-ranting kering di negeri ini
Menebarkannya di sekitar kita
Hingga tangan kita kadang gatal untuk segera menyalakan korek api untuk
membakarnya
Semua begitu tertata dan terencana
Begitu runtut dan sistemis
Saat beberapa di antara kami mencoba menyingkirkannya
Tiba-tiba muncul ranting-ranting kering lainnya di sekitar kita
Hingga beberapa di antara kita merasa bahwa cara terbaik untuk
membersihkannya
Adalah dengan membakarnya
Adakah yang sengaja bermain api di negeri ini
Menghembus-hembus angin untuk mengobarkan titik-titik kecil api
Semua begitu rapi
Tampak begitu sejati
Ketika beberapa di antara kita mencoba memadamkan api
Muncul titik-titik baru yang tak terkendali
Bahkan beberapa di antara kami mulai membenci pemadam api
Atas nama keyakinan yang hakiki
Menumbuhkan kesadaran diri
Bahwa untuk membersihkan sampah yang mengotori
Mestilah menggunakan api
Tak lagi cukup dengan menyingkirkan semak berduri
Adakah yang sengaja membawa api
Di tengah ranting kering yang berserakan atau sengaja diserakan
Selasa, 22 November 2016
Berhati-hatilah dalam sebuah zaman....
Berhati-hatilah berada dalam suatu zaman ketika…
Fitnah merajarela
Kebenaran hanya dijadikan alat semata
Kebencian dibuat berkuasa atas cinta
Norma dan agama menjadi topeng bagi ambisi atas kuasa
Berhati-hatilah berada dalam zaman ketika…
Para cendikia bukan mencerahkan namun menyesatkan
Para pemimpin bukan menjadi pengayom malah menjadi garong
Para hakim bukan menjadi pengadil malah menjadi penjual
keadilan
Para bandit bukan dipenjarakan malah diberi penghormatan
Berhati-hatilah berada dalam zaman ketika….
Ulama tulus dihinakan dan ditinggalkan
Cendikia lurus diasingkan dan disingkirkan
Pemimpin adil digoyang untuk dijatuhkan
Berhati-hatilah berada dalam zaman ketika…
Kebatilan dibungkus sesuatu yang hak
Kebencian ditampilkan seakan bentuk kasih sayang
Pelanggaran dibuat menjadi seperti penegakan
Penyimpangan dikesankan menjadi pelurusan
Penindasan ditata menjadi pensejahteraan
Ambisi pribadi dibalut dalam pakaian kepentingan negeri
Berhati-hatilah…..
Sabtu, 30 Oktober 2010
do'a untuk negeri
Semua kehendak-Mu ya Rabb...
pasti tlah Kau tulis di arasy-Mu
hujan abu hingga hujan batu
banjir bandang hingga gelombang menerjang
segala yang tersurat dalam titah-Mu
tak mungkin kami hindari
semua yang termaktub dalam kitab takdir-Mu
niscaya pasti terjadi
hanya kepasrahan
itu satu-satunya harapan kami
mohon keselamatan atas jiwa-jiwa kami
sanak famili dan juga teman-teman kami
mohon perlindungan
dari segala adzab tak terperi
saatnya kami kembali menunduk
setelah sekian lama wajah kami mendongak
dalam angkuh ego kami
mohon perkenan-Mu ya Rabb..
agar hikmah menerangi nurani
untuk bangkit kembali membangun negeri
dalam tunduk tanpa angkuh diri
semoga semua musibah ini
hanya ujian untuk mengingatkan diri kami
agar tak sewenang pada bumi
semoga semua musibah ini
bukan adzab tak terperi
yang akan akhiri kisah negeri ini
pada-Mu kami bersimpuh
serahkan segala yang terbaik bagi kami
pada kuasa-Mu
pada takdir-Mu
pada tetap-Mu
pada titah-Mu
pasti tlah Kau tulis di arasy-Mu
hujan abu hingga hujan batu
banjir bandang hingga gelombang menerjang
segala yang tersurat dalam titah-Mu
tak mungkin kami hindari
semua yang termaktub dalam kitab takdir-Mu
niscaya pasti terjadi
hanya kepasrahan
itu satu-satunya harapan kami
mohon keselamatan atas jiwa-jiwa kami
sanak famili dan juga teman-teman kami
mohon perlindungan
dari segala adzab tak terperi
saatnya kami kembali menunduk
setelah sekian lama wajah kami mendongak
dalam angkuh ego kami
mohon perkenan-Mu ya Rabb..
agar hikmah menerangi nurani
untuk bangkit kembali membangun negeri
dalam tunduk tanpa angkuh diri
semoga semua musibah ini
hanya ujian untuk mengingatkan diri kami
agar tak sewenang pada bumi
semoga semua musibah ini
bukan adzab tak terperi
yang akan akhiri kisah negeri ini
pada-Mu kami bersimpuh
serahkan segala yang terbaik bagi kami
pada kuasa-Mu
pada takdir-Mu
pada tetap-Mu
pada titah-Mu
Blogged with the Flock Browser
Langganan:
Postingan (Atom)