di sini
di dada ini
masih tersimpan rapi segumpal hati
mendetak dua denyut jiwa
jiwaku, jiwamu
di sini
di dalam sini
masih bergulung gelombang ridu
rinduku padamu
di sini
di relung jiwa
masih gemerlap megah ruang sukma
dengan terang temaram cahya cinta
hangat mendesah gelora jiwa
di sini
dalam aliran nadi
tetap mengalir sebuah nama
namamu belahan jiwa
di sini
dalam tarik nafasku
menyatu kasih luapan cinta kita
di sini
dalam diri ini
segalanya masih tersimpan rapi
cinta,
kasih,
rindu,
rasa
sebagai anugerah Sang Ilah yang mesti dijaga
Rabu, 22 Agustus 2012
Selasa, 21 Agustus 2012
dingin, beku, hangat, cinta
kebekuan...
apapun dan bagaimanapun
hanya dapat dicairkan dengan kehangatan
karna panas akan melelehkannya
kematian...
bagaimanapun dan di manapun
tiadanya gairah untuk bergerak dan mengalir
meski nafas masih mengalir tanpa gelora
cinta....
di manapun dan kapanpun
matahari hangat dalam jiwa
pencair beku dingin dalam rasa
menebar nyaman bagi siapa pun yang dikunjunginya
rindu...
kapanpun dan apapun
dingin yang menyusup di antara hangat surya
kobarkan gelora demi sebuah sua
jiwa...
tempat kebekuan dan kematian bermula
rumah semayam bagi rindu dan cinta
apapun dan bagaimanapun
hanya dapat dicairkan dengan kehangatan
karna panas akan melelehkannya
kematian...
bagaimanapun dan di manapun
tiadanya gairah untuk bergerak dan mengalir
meski nafas masih mengalir tanpa gelora
cinta....
di manapun dan kapanpun
matahari hangat dalam jiwa
pencair beku dingin dalam rasa
menebar nyaman bagi siapa pun yang dikunjunginya
rindu...
kapanpun dan apapun
dingin yang menyusup di antara hangat surya
kobarkan gelora demi sebuah sua
jiwa...
tempat kebekuan dan kematian bermula
rumah semayam bagi rindu dan cinta
Jumat, 17 Agustus 2012
67 Tahun t'lah Berlalu (Sebuah Refleksi)
Hari ini, pukul 10.15
enam puluh tujuh tahun lalu
Soekarna membacakan ikrar anak bangsa
tegaskan kelahiran sebuah negeri bernama Indonesia
bersama Hatta yang mendampingi setia
Enam puluh tujuh tahun lalu
Proklamasi tlah menyatukan keragaman suka bangsa, ras,
agama, bahasa yang bertebaran di sepanjang gugusan nusa khatulistiwa
Bersatu padu lupakan segala perbedaan
Bergandeng tangan melangkah menuju harapan
Enam puluh tujuh tahun lalu
Para orang tua kita telah bersepakat bersama
Bergerak bersinergi membangun bangsa
Membangun jiwa-jiwa merdeka
Melahirkan karakter-karakter juara
Dalam pekik MERDEKA bersama kepal meninju udara
Melangkah ke gelanggang dunia dengan tegak kepala
Menatap masa depan sejahtera jiwa raga
Kini, setelah enam puluh tujuh tahun berlalu
Negeri yang kalian angankan belum juga ketemu
Rendah diri masih belum beranjak dari dulu
Jiwa-jiwa kerdil memilih menghamba daripada merdeka
entah menghamba harta, kuasa, atau kekuasaan di luar sana
Belum mampu juga kita tegak kepala, masih menunduk-nunduk patuh
pada kekuatan di luar diri kita
Kini, setelah enam puluh tujuh tahun lewat
Kebersamaan seakan sudah tidak lagi kuat mengikat
Perbedaan dijadikan barang untuk saling laknat
Agama dijadikan alasan untuk saling hujat
Suku, ras, bahasa dijadikan sumber menghilangkan perekat
Kami malu padamu wahai para pendahulu
Keangkuhan membuat kami tak pernah padu
Ketumpulan jiwa membuat kami berpikir seakan paling tahu
Belum cukup kami menjadi bijaksana
untuk melihat beda sebagai alat untuk bekerja sama
Masih terlalu pagi bagi kami untuk pahami
Bahwa keragaman adalah sumber kekuatan
Bahwa perbedaan adalah sumber kepaduan
Bahwa laut-laut kita adalah alat untuk saling menghubungkan
bukan batas yang memisahkan
Setelah enam puluh tujuh tahun berlalu
tampaknya kita perlu termangu
termenung untuk temukan makna baru
bahwa merdeka sebenarnya adalah merdeka jiwa
bukan sekedar terusirnya para 'walanda'
bahwa penjajahan bukan hanya penjajahan raga
bahkan penjajahan jiwa jauh lebih berbahaya
bahwa musuh kemerdekaan bukan sekedar para penakluk dari luar sana
namun musuh paling berbahaya adalah yang ada di dalamnya
dalam beragam topeng yang menutupinya
dalam beragam pakaian yang dikenakannya
dalam beragam visi bohong yang melapisinya
atas nama kebebasan
mereka bisa mengkrangkeng kebebasan
atas nama kemerdekaan
mereka dapat meniadakan kemerdekaan
atas nama kesejahteraan
mereka mampu membakar kesejahteraan
atas nama bangsa
mereka sering menjual bangsa
atas nama rakyat
mereka kerap mengkhianati rakyat
Setelah enam puluh tujuh tahun berlalu
masih beginilah.......INDONESIAKU
enam puluh tujuh tahun lalu
Soekarna membacakan ikrar anak bangsa
tegaskan kelahiran sebuah negeri bernama Indonesia
bersama Hatta yang mendampingi setia
Enam puluh tujuh tahun lalu
Proklamasi tlah menyatukan keragaman suka bangsa, ras,
agama, bahasa yang bertebaran di sepanjang gugusan nusa khatulistiwa
Bersatu padu lupakan segala perbedaan
Bergandeng tangan melangkah menuju harapan
Enam puluh tujuh tahun lalu
Para orang tua kita telah bersepakat bersama
Bergerak bersinergi membangun bangsa
Membangun jiwa-jiwa merdeka
Melahirkan karakter-karakter juara
Dalam pekik MERDEKA bersama kepal meninju udara
Melangkah ke gelanggang dunia dengan tegak kepala
Menatap masa depan sejahtera jiwa raga
Kini, setelah enam puluh tujuh tahun berlalu
Negeri yang kalian angankan belum juga ketemu
Rendah diri masih belum beranjak dari dulu
Jiwa-jiwa kerdil memilih menghamba daripada merdeka
entah menghamba harta, kuasa, atau kekuasaan di luar sana
Belum mampu juga kita tegak kepala, masih menunduk-nunduk patuh
pada kekuatan di luar diri kita
Kini, setelah enam puluh tujuh tahun lewat
Kebersamaan seakan sudah tidak lagi kuat mengikat
Perbedaan dijadikan barang untuk saling laknat
Agama dijadikan alasan untuk saling hujat
Suku, ras, bahasa dijadikan sumber menghilangkan perekat
Kami malu padamu wahai para pendahulu
Keangkuhan membuat kami tak pernah padu
Ketumpulan jiwa membuat kami berpikir seakan paling tahu
Belum cukup kami menjadi bijaksana
untuk melihat beda sebagai alat untuk bekerja sama
Masih terlalu pagi bagi kami untuk pahami
Bahwa keragaman adalah sumber kekuatan
Bahwa perbedaan adalah sumber kepaduan
Bahwa laut-laut kita adalah alat untuk saling menghubungkan
bukan batas yang memisahkan
Setelah enam puluh tujuh tahun berlalu
tampaknya kita perlu termangu
termenung untuk temukan makna baru
bahwa merdeka sebenarnya adalah merdeka jiwa
bukan sekedar terusirnya para 'walanda'
bahwa penjajahan bukan hanya penjajahan raga
bahkan penjajahan jiwa jauh lebih berbahaya
bahwa musuh kemerdekaan bukan sekedar para penakluk dari luar sana
namun musuh paling berbahaya adalah yang ada di dalamnya
dalam beragam topeng yang menutupinya
dalam beragam pakaian yang dikenakannya
dalam beragam visi bohong yang melapisinya
atas nama kebebasan
mereka bisa mengkrangkeng kebebasan
atas nama kemerdekaan
mereka dapat meniadakan kemerdekaan
atas nama kesejahteraan
mereka mampu membakar kesejahteraan
atas nama bangsa
mereka sering menjual bangsa
atas nama rakyat
mereka kerap mengkhianati rakyat
Setelah enam puluh tujuh tahun berlalu
masih beginilah.......INDONESIAKU
Langganan:
Postingan (Atom)