Minggu, 03 Juni 2018

Ramadlan, sebuah renungan setengah perjalanan

Ramadlan telah lebih dari separo perjalanan
kesucian masih jauh dari harapan
masih fasih lidah ini untuk mencaci
masih trampil mulut ini untuk mencibir
masih berkobar jiwa ini untuk merendahkan

Ramadlan telah lebih dari separo perjalanan
mestinya telah penuh jiwa dengan rasa cinta
mestinya telah berlimpah kasih sayang setiap insan
mestinya memaafkan kesalahan telah menjadi kebiasaan

Ramadlan telah lebih dari separo perjalanan
bagaimana mengharap hadir keselamatan
jika setiap saat masih kita suarakan kebencian
bagaimana memimpikan kemenangan
jika setiap waktu masih kita sebarkan perpecahan
bagaimana merasa menuju ketakwaan
jika setiap hari masih kita lakukan kemaksiatan

Ramadlan telah lebih dari separo perjalanan
kemanusiaan belum lagi ditemukan
berhala-berhala keangkuhan masih bergentayangan
tonggak-tonggak kesombongan masih menancap begitu dalam
ego akan kebenaran masih begitu membutakan

Ramadlan telah lebih dari separo perjalanan
semoga masih ada jalan
untuk menuju sejati kemanusiaan
semoga masih ada waktu dan kesempatan
bagi jiwa untuk menuju tempat peraduan
semoga masih ada perkenan
bagi pengkabulan doa dan harapan

Ramadlan telah lebih dari separo perjalanan
semoga kami tidak termasuk yang mendapat kerugian

Amin

Jumat, 25 Mei 2018

Hanya tanya

Jika semua orang mencaci
akankah kita ikut mencaci
saat semua orang menghujat
apakah kita juga mesti menghujat
ketika semua mengutuk
haruskah kita juga mengutuk

Kebaikan tidak mungkin bersatu dengan keburukan
penghormatan tidak mungkin bercampur dengan penghinaan
kemuliaan tidak bisa lebur dalam kehinaan

Kita katakan ajaran agama penuh kedamaian
lalu mengapa yang kita tunjukkan tingkat penuh keberingasan
Kita yakini ajara agama sumber keselamatan
lalu mengapa yang kita lakukan sering membawa ketakutan
Kita tak terima orang menghina keyakinan kita
namun pada saat sama kita mencaci keyakinan lainnya


Senin, 09 April 2018

Sadari (Sadar Diri)

terantuk batu jalanan
terjerembab di atas kubangan
rasa jijik kala wajah tercebur kubangan
kecewa karena merasa hilang kesucian

tanpa sengaja melihat wajah di air dalam kubangan
luntur meleleh segala topeng kepalsuan
ah...
ternyata masih saja banyak kebopengan
yang tanpa sadar dihaluskan oleh topeng kepalsuan
ah...
air kotor di kubangan
ternyata masih mampu menampilkan kesejatian
akan wajah diri yang masih penuh kebopengan
ah...
ternyata tak perlu air jernih untuk melelehkan
segala lapis topeng kebopengan
ah...
ternyata cukup air comberan
untuk membuka semua kepalsuan

malu aku pada wajah sendiri
ngeri aku melihat kerusakan wajah sendiri